AZAZ – AZAZ BK

1. azaz kerahasiaan
segala sesuatu yang dibicarakan klien kepada konselor tidak boleh disampaikan kepada orang lain,atau lebih – lebih hala atau keterangan yang tidak boleh atau tidak layak diketahui oleh orang lain.
2. azaz kesukarelaan
prosese bimbingan dan koseling harus berlangsung atas dasar kesukarelaan,baik dari pihak sipembimbing maupun dari pihak konselor.
3. azaz keterbukaan.
dalam pelaksanaan BK sangat diperlukan suasana keterbukaan baik keterbukaan dari konselor maupun dari klien.
4.azaz kekinian
masalah individu yang ditanggulangi adalah masalah – masalah yang sedang dirasakan oleh klien,bukan masalah masa lampau atau masa lalu.
5. azaz kemandirian
pelayanan BK bertujuan menjadikan siterbimbing dapat berdiri sendiri,tidak tergantung pada orang lain atau tergantung pada konselor.individu yang di bantu dihareapkan mampu mandiri.
6. azaz kegiatan
usaha BK tidak akan membrikanbuah berarti bila klien tidak melakukan sendiri kegiatan dalam mencapai tujuan BK.
7. azaz kedinamisan
usaha pelayanan BK menghendaki terjadinya perubahan pada diri klien,yaitu perubahan tingkah laku kearah yang lebih baik.
8. azaz keterpaduan
pelayanan BK berusajha memadukan sebagai aspek kepribadiaan klien.
9. azaz kenormatifan
usaha BK yang tidak boleh bertentangan dengan norma – norma yang berlaku baik ditinjau dari norma agama maupun norma adat,hukum,ilmu dan kesehariaan.
10. azaz keahlian
usaha BK perlu dilakukan azaz keahliaan secara teratur dan sistematik dengan menggunakan prosedur ,teknik dan alat instrumentasi BK yang memadai.
11.azaz alih tangan
12. azaz tut wuri handayani

referensi:
Prayitno.2008.dasar – dasar BK.Jakarta:Rineka Cipta.
Erman Amti.2008. dasar – dasar BK.Jakarta: Rineka Cipta.

ASAL – USUL BK

Asal Usul BK ( Bimbingan Konseling )
1.Sejarah lahirnya Bimbingan dan Konseling di Indonesia diawali dari dimasukkannya Bimbingan dan Konseling (dulunya Bimbingan dan Penyuluhan) pada setting sekolah. Pemikiran ini diawali sejak tahun 1960. Hal ini merupakan salah satu hasil Konferensi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (disingkat FKIP, yang kemudian menjadi IKIP) di Malang tanggal 20 – 24 Agustus 1960. Perkembangan berikutnya tahun 1964 IKIP Bandung dan IKIP Malang mendirikan jurusan Bimbingan dan Penyuluhan. Tahun 1971 beridiri Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) pada delapan IKIP yaitu IKIP Padang, IKIP Jakarta, IKIP Bandung, IKIP Yogyakarta, IKIP Semarang, IKIP Surabaya, IKIP Malang, dan IKIP Menado. Melalui proyek ini Bimbingan dan Penyuluhan dikembangkan, juga berhasil disusun “Pola Dasar Rencana dan Pengembangan Bimbingan dan Penyuluhan “pada PPSP. Lahirnya Kurikulum 1975 untuk Sekolah Menengah Atas didalamnya memuat Pedoman Bimbingan dan Penyuluhan.
2.Tahun 1978 diselenggarakan program PGSLP dan PGSLA Bimbingan dan Penyuluhan di IKIP (setingkat D2 atau D3) untuk mengisi jabatan Guru Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah yang sampai saat itu belum ada jatah pengangkatan guru BP dari tamatan S1 Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan. Pengangkatan Guru Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah mulai diadakan sejak adanya PGSLP dan PGSLA Bimbingan dan Penyuluhan. Keberadaan Bimbingan dan Penyuluhan secara legal formal diakui tahun 1989 dengan lahirnya SK Menpan No 026/Menp an/1989 tentang Angka Kredit bagi Jabatan Guru dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Di dalam Kepmen tersebut ditetapkan secara resmi adanya kegiatan pelayanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah. Akan tetapi pelaksanaan di sekolah masih belum jelas seperti pemikiran awal untuk mendukung misi sekolah dan membantu peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan mereka.Sampai tahun 1993 pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah tidak jelas, parahnya lagi pengguna terutama orang tua murid berpandangan kurang bersahabat dengan BP. Muncul anggapan bahwa anak yang ke BP identik dengan anak yang bermasalah, kalau orang tua murid diundang ke sekolah oleh guru BP dibenak orang tua terpikir bahwa anaknya di sekolah mesti bermasalah atau ada masalah. Hingga lahirnya SK Menpan No. 83/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya yang di dalamnya termuat aturan tentang Bimbingan dan Konseling di sekolah. Ketentuan pokok dalam SK Menpan itu dijabarkan lebih lanjut melalui SK Mendikbud No 025/1995 sebagai petunjuk pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Di Dalam SK Mendikbud ini istilah Bimbingan dan Penyuluhan diganti menjadi Bimbingan dan Konseling di sekolah dan dilaksanakan oleh Guru Pembimbing. Di sinilah pola pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di sekolah mulai jelas.
 Pra Lahirnya Pola 17
• Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah diselenggarakan dengan pola yang tidak jelas, ketidak jelasan pola yang harus diterapkan berdampak pada buruknya citra bimbingan dan konseling, sehingga melahirkan miskonsepsi terhadap pelaksanaan BK, munculnya persepsi negatif terhadap pelaksanaan BK, berbagai kritikan muncul sebagai wujud kekecewaan atas kinerja Guru Pembimbing sehingga terjadi kesalahpahaman, persepsi negatif dan miskonsepsi berlarut. Masalah menggejala diantaranya: konselor sekolah dianggap polisi sekolah, BK dianggap semata-mata sebagai pemberian nasehat, BK dibatasi pada menangani masalah yang insidental, BK dibatasi untuk klien-klien tertentu saja, BK melayani ”orang sakit” dan atau ”kurang normal”, BK bekerja sendiri, konselor sekolah harus aktif sementara pihak lain pasif, adanya anggapan bahwa pekerjaan BK dapat dilakukan oleh siapa saja, pelayanan BK berpusat pada keluhan pertama saja, menganggap hasil pekerjaan BK harus segera dilihat, menyamaratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien, memusatkan usaha BK pada penggunaan instrumentasi BK (tes, inventori, kuesioner dan lain-lain) dan BK dibatasi untuk menangani masalah-masalah yang ringan saja.
• Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah diselenggarakan dengan pola yang tidak jelas, ketidak jelasan pola yang harus diterapkan disebabkan diantaranya oleh hal-hal sebagai berikut :
Belum adanya hukum
Sejak Konferensi di Malang tahun 1960 sampai dengan munculnya Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan di IKIP Bandung dan IKIP Malang tahun 1964, fokus pemikiran adalah mendesain pendidikan untuk mencetak tenaga-tenaga BP di sekolah. Tahun 1975 Konvensi Nasional Bimbingan I di Malang berhasil menelurkan keputusan penting diantaranya terbentuknya Organisasi bimbingan dengan nama Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI). Melalui IPBI inilah kelak yang akan berjuang untuk memperolah Payung hukum pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah menjadi jelas arah kegiatannya.
Semangat luar biasa untuk melaksanakan
BP di sekolahLahirnya SK Menpan No. 026/Menpan/1989 tentang Angka Kredit bagi Jabatan Guru dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Merupakan angin segar pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah. Semangat yang luar biasa untuk melaksanakan ini karena di sana dikatakan “Tugas guru adalah mengajar dan/atau membimbing.” Penafsiran pelaksanaan ini di sekolah dan didukung tenaga atau guru pembimbing yang berasal dari lulusan Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan atau Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (sejak tahun 1984/1985) masih kurang, menjadikan pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah tidak jelas. Lebih-lebih lagi dilaksanakan oleh guru-guru yang ditugasi sekolah berasal dari guru yang senior atau mau pensiun, guru yang kekurangan jam mata pelajaran untuk memenuhi tuntutan angka kreditnya. Pengakuan legal dengan SK Menpan tersebut menjadi jauh arahnya terutama untuk pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah.
Belum ada aturan main yang jelas
Apa, mengapa, untuk apa, bagaimana, kepada siapa, oleh siapa, kapan dan di mana pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan dilaksanakan juga belum jelas. Oleh siapa bimbingan dan penyuluhan dilaksanakan, di sekolah banyak terjadi diberikan kepada guru-guru senior, guru-guru yang mau pensiun, guru mata pelajaran yang kurang jam mengajarnya untuk memenuhi tuntutan angka kreditnya. Guru-guru ini jelas sebagian besar tidak menguasai dan memang tidak dipersiapkan untuk menjadi Guru Pembimbing. Kesan yang tertangkap di masyarakat terutama orang tua murid Bimbingan Penyuluhan tugasnya menyelesaikan anak yang bermasalah. Sehingga ketika orang tua dipanggil ke sekolah apalagi yang memanggil Guru Pembimbing, orang tua menjadi malu, dan dari rumah sudah berpikir ada apa dengan anaknya, bermasalah atau mempunyai masalah apakah. Dari segi pengawasan, juga belum jelas arah dan pelaksanaan pengawasannya. Selain itu dengan pola yang tidak jelas tersebut mengakibatkan:
 Guru BP (sekarang Konselor Sekolah) belum mampu mengoptimalisasikan tugas dan fungsinya dalam memberikan pelayanan terhadap siswa yang menjadi tanggungjawabnya. Yang terjadi malah guru pembimbing ditugasi mengajarkan salah satu mata pelajaran seperti Bahasa Indonesia, Kesenian, dsb.nya.
 Guru Pembimbing merangkap pustakawan, pengumpul dan pengolah nilai siswa dalam kelas-kelas tertentu serta berfungsi sebagai guru piket dan guru pengganti bagi guru mata pelajaran yang berhalangan hadir.
 Guru Pembimbing ditugasi sebagai “polisi sekolah” yang mengurusi dan menghakimi para siswa yang tidak mematuhi peraturan sekolah seperti terlambat masuk, tidak memakai pakaian seragam atau baju yang dikeluarkan dari celana atau rok.
 Kepala Sekolah tidak mampu melakukan pengawasan, karena tidak memahami program pelayanan serta belum mampu memfasilitasi kegiatan layanan bimbingan di sekolahnya,
 Terjadi persepsi dan pandangan yang keliru dari personil sekolah terhadap tugas dan fungsi guru pembimbing, sehingga tidak terjalin kerja sama sebagaimana yang diharapkan dalam organisasi bimbingan dan konseling.Kondisi-kondisi seperti di atas, nyaris terjadi pada setiap sekolah di Indonesia.

KENAKALAN REMAJA

KENAKALAN REMAJA

Dampak Kenakalan Remaja. Saat ini, hampir tidak terhitung berapa jumlah remaja yang melakukan hal-hal negatif. Bahkan, Dampak kenakalan remaja tersebut, banyak sekali kerugian yang terjadi, baik bagi remaja itu sendiri maupun orang-orang di sekitar mereka. Remaja adalah seorang anak yang bisa dibilang berada pada usia tanggung, mereka bukanlah anak kecil yang tidak mengerti apa-apa, tapi juga bukan orang dewasa yang bisa dengan mudah akan membedakan hal mana yang baik dan mana yang berakibat buruk.
Macam-Macam Kenakalan Remaja
Sebelum mengetahui apa saja dampak kenakalan remaja, kita perlu tahu tentang kenakalan apa saja yang mungkin dilakukan oleh remaja. Sebuah kenakalan tentu tidak bisa didata satu persatu, namun bisa dirangkum seperti penjelasan di bawah ini.
Dampak kenakalan remaja:
Kenakalan dalam keluarga: Remaja yang labil umumnya rawan sekali melakukan hal-hal yang negatif, di sinilah peran orang tua. Orang tua harus mengontrol dan mengawasi putra-putri mereka dengan melarang hal-hal tertentu.Namun, bagi sebagian anak remaja, larangan-larangan tersebut malah dianggap hal yang buruk dan mengekang mereka. Akibatnya, mereka akan memberontak dengan banyak cara. Tidak menghormati, berbicara kasar pada orang tua, atau mengabaikan perkataan orang tua adalah contoh kenakalan remaja dalam keluarga.
Kenakalan dalam pergaulan: Dampak kenakalan remaja yang paling nampak adalah dalam hal pergaulan. Sampai saat ini, masih banyak para remaja yang terjebak dalam pergaulan yang tidak baik. Mulai dari pemakaian obat-obatan terlarang sampai seks bebas.Menyeret remaja pada sebuah pergaulan buruk memang relatif mudah, dimana remaja sangat mudah dipengaruhi oleh hal-hal negatif yang menawarkan kenyamanan semu. Akibat pergaulan bebas inilah remaja, bahkan keluarganya, harus menanggung beban yang cukup berat.
Kenakalan dalam pendidikan: Kenakalan dalam bidang pendidikan memang sudah umum terjadi, namun tidak semua remaja yang nakal dalam hal pendidikan akan menjadi sosok yang berkepribadian buruk, karena mereka masih cukup mudah untuk diarahkan pada hal yang benar. Kenakalan dalam hal pendidikan misalnya, membolos sekolah, tidak mau mendengarkan guru, tidur dalam kelas, dll.
Dampak Kenakalan Remaja
• Dampak kenakalan remaja pasti akan berimbas pada remaja tersebut. Bila tidak segera ditangani, ia akan tumbuh menjadi sosok yang bekepribadian buruk.
• Remaja yang melakukan kenakalan-kenakalan tertentu pastinya akan dihindari atau malah dikucilkan oleh banyak orang. Remaja tersebut hanya akan dianggap sebagai pengganggu dan orang yang tidak berguna.
• Akibat dari dikucilkannya ia dari pergaulan sekitar, remaja tersebut bisa mengalami gangguan kejiwaan. Yang dimaksud gangguan kejiwaan bukan berarti gila, tapi ia akan merasa terkucilkan dalam hal sosialisai, merasa sangat sedih, atau malah akan membenci orang-orang sekitarnya.
• Dampak kenakalan remaja yang terjadi, tak sedikit keluarga yang harus menanggung malu. Hal ini tentu sangat merugikan, dan biasanya anak remaja yang sudah terjebak kenakalan remaja tidak akan menyadari tentang beban keluarganya.
• Masa depan yang suram dan tidak menentu bisa menunggu para remaja yang melakukan kenakalan. Bayangkan bila ada seorang remaja yang kemudian terpengaruh pergaulan bebas, hampir bisa dipastikan dia tidak akan memiliki masa depan cerah. Hidupnya akan hancur perlahan dan tidak sempat memperbaikinya.
• Kriminalitas bisa menjadi salah satu dampak kenakalan. Remaja yang terjebak hal-hal negatif bukan tidak mungkin akan memiliki keberanian untuk melakukan tindak kriminal. Mencuri demi uang atau merampok untuk mendapatkan barang berharga.

Read more: KENAKALAN REMAJA >> Penyebab Kenakalan Remaja | Dampak Kenakalan Remaja | belajarpsikologi.com

KOMPONEN KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI

Komponen – komponen komunikasi antar pribadi
A. Komunikator
Komunikator sering juga disebut sumber pesan,orang yang engambil inisiatif dalam menyampaikan pesan transmitter dan entoder. Setiap kali terjadi penyampaian pesan dari seseorang(sumber pesan) kepada orang lain. Dalam berkomunikasi yang menjadi informasi adalah otak.dalam otak seseorang kemungkinan terdapat message pesan atau informasi yang tidak terbatas jumlahnya. Otak juga menghasilkan suatu pesan dari banyak peesan yang ada. Dalam komunikasi antar pribadi yang menjadi penyampaian atau pemindahan pesan pada diri komunikator terjadi proses pembentukan suara yang dihubungkan dengan otak – otak serta organ tubuh lainya yang terlibat dalam penggunaan bahasa non verbal, sedangkan dalam komunikasi yang menggunakan mesin – mesin, atau alat – alat komunikasi yang berfungsi sebagai transmiternya adalah alat itu sendiri seperti telepon,radio,televise,film dll.
a. Komunikan
Komunikan yang juga dikatakan sebagai orang yang menerima pesan,lawan bicara,audiens. Dalam komunikasi tidaklah cukup kalau hanya komunikator dan pesan saja. Melainkan adanya suatu respon terhadap pesan yang disampaikan oleh komunikator,respon tersebut adalah dari pihakkomunikan atau orang yang menerima pesan.
b. Pesan atau berita
Berita sering juga disebut dengan pesan,materi, pengertian yang disampaian oleh komunikator kepada komunikan dengan meubahnya menjadi lambing – lambing . lambing – lambing tersebut dapat berupa

gerakan – gerakan,bahasa manusia,(lisan atau tulisan),lambing berupa gerakan. Pesan adalah merupakan isyarat yang berperan sebagai perangsang bagi komunikan. Pesan itu mengandung pengertian, perasaan ,tanda- tanda dll. Adapun sifat dari pesan itu adalah sebagaimana dijelaskan Devito(dalam Muhammad Arni,1989). Yaitu pesan yang bersifat suara(ountory),visual(dapat dilihat), tektil(dapat diraba),bau(alfactory)rasa atau pengecapan(guestetory) ataupun kombinasi dari semua itu. Dari pesan tersebut jelaslah bahwa pesan itu suatu hal yang dapat didengar,dilihat,atau diraba dan dirasakan.
B. Saluran
Saluran adalah sarana tempat berlaunya penyampaian lambing – lambing dari sumber pesan kepada penerima pesan. Dalam pross komunikasi antar pribadi, saluran komunikasi adalah sesuatu yang terlibat seabagai pengantar dalam pertukaran – pertukaran informasi tatap muka.

Referensi:
Devito . Josep A.1997.komunikasi antar manusia.
Sun. syofyan.2000. komunikasi antar pribadi.padang: jurusan BK FIP UNP.

KOMPONEN – KOMPONEN KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI

Komponen – komponen komunikasi antar pribadi
A. Komunikator
Komunikator sering juga disebut sumber pesan,orang yang engambil inisiatif dalam menyampaikan pesan transmitter dan entoder. Setiap kali terjadi penyampaian pesan dari seseorang(sumber pesan) kepada orang lain. Dalam berkomunikasi yang menjadi informasi adalah otak.dalam otak seseorang kemungkinan terdapat message pesan atau informasi yang tidak terbatas jumlahnya. Otak juga menghasilkan suatu pesan dari banyak peesan yang ada. Dalam komunikasi antar pribadi yang menjadi penyampaian atau pemindahan pesan pada diri komunikator terjadi proses pembentukan suara yang dihubungkan dengan otak – otak serta organ tubuh lainya yang terlibat dalam penggunaan bahasa non verbal, sedangkan dalam komunikasi yang menggunakan mesin – mesin, atau alat – alat komunikasi yang berfungsi sebagai transmiternya adalah alat itu sendiri seperti telepon,radio,televise,film dll.
a. Komunikan
Komunikan yang juga dikatakan sebagai orang yang menerima pesan,lawan bicara,audiens. Dalam komunikasi tidaklah cukup kalau hanya komunikator dan pesan saja. Melainkan adanya suatu respon terhadap pesan yang disampaikan oleh komunikator,respon tersebut adalah dari pihakkomunikan atau orang yang menerima pesan.
b. Pesan atau berita
Berita sering juga disebut dengan pesan,materi, pengertian yang disampaian oleh komunikator kepada komunikan dengan meubahnya menjadi lambing – lambing . lambing – lambing tersebut dapat berupa

gerakan – gerakan,bahasa manusia,(lisan atau tulisan),lambing berupa gerakan. Pesan adalah merupakan isyarat yang berperan sebagai perangsang bagi komunikan. Pesan itu mengandung pengertian, perasaan ,tanda- tanda dll. Adapun sifat dari pesan itu adalah sebagaimana dijelaskan Devito(dalam Muhammad Arni,1989). Yaitu pesan yang bersifat suara(ountory),visual(dapat dilihat), tektil(dapat diraba),bau(alfactory)rasa atau pengecapan(guestetory) ataupun kombinasi dari semua itu. Dari pesan tersebut jelaslah bahwa pesan itu suatu hal yang dapat didengar,dilihat,atau diraba dan dirasakan.
B. Saluran
Saluran adalah sarana tempat berlaunya penyampaian lambing – lambing dari sumber pesan kepada penerima pesan. Dalam pross komunikasi antar pribadi, saluran komunikasi adalah sesuatu yang terlibat seabagai pengantar dalam pertukaran – pertukaran informasi tatap muka.

Referensi:
Devito . Josep A.1997.komunikasi antar manusia.
Sun. syofyan.2000. komunikasi antar pribadi.padang: jurusan BK FIP UNP.

PENTINGNYA PENDIDIKAN PRA SEKOLAH

PENTINGNYA PENDIDIKAN PRA SEKOLAH, TK(PAUD) dan SD

Masa pra sekolah menurut Munandar(1992) merupakan masa – masa untuk bermain dan mulai memasuki taman kanak – kanak. Waktu bermain merupakan sarana untuk tumbuh dalam lingkungan dn kesiapannya dalam belajar formal ( Gunarsa 2004 ). Pada tahap perkembangan anak usia pra sekolah ini, anak mulai menguasai berbagai keterampilan fisik,bahasa dan anakpun mulai memiliki rasa percaya diri dan mengeksplorasikan kemandiriannya( Hurlock,1997). Pendidikan prasekolah merupakan suatu pola pendidikan formal dan informal yang dilakukan dari usia lahir sampai 6 tahun sebelum memasuki usia sekolah dasar. Pendidikan pra sekolah seperti play group/ TK adalah untuk membantu meletakkan dasar kearah perkembangan sikap,pengetahuan,keterampilan,dan dayacipta yang diperlukan anak – anak didik dlam dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya dan memberikan imajinasi dan wawasan serta rangsangan sensorik dan motorik otak agar tumbuh dan berkembang dengan baik untuk menempuh dan persiapan kejenjang pendidikan dasar. Pendidikan anak usia dini adalah jenjang pendidikan sebelum pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditunjukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan. Jasmani dan rohani.
Fungsi dari taman kanak- kanak:
• Mengenalkan peraturan – peraturan dan menanamkan disiplin pada anak.
• Mengenalkan anak dengan dunia sekitar
• Menumbuhkan sikap dan perilaku yang baik
• Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan bersosialissi.
• Mengembangkan keterampilan , kreatifitas dan kemampuan yang dimiliki.
• Menyiapkan anak untuk memasuki pendidikan dasar.
Tujuan dari pendidikan taman kanak – kanak yaitu:
Membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik fisik maupun psikis yang meliputi moral dan nili – nilai agama ,social emosional, kognitif,bahasa ,fisik/motorik,kemandirian dan seni,untuk memasui pendidikan dasar.
Adapun tujuan dari bimbingan ditaman kanak – kanak yaitu :
• Membantu anak lebih mengenal dirinya ,kemampuanya,sifat- sifatnya ,kebiasaan dan kesenangannya.
• Membantu anak mengembangkan potensi yang dimilikinya.
• Membantu anak mengatasi kesulitan yang dihadapi.
• Membantu anak menyiapkan perkembangan mental dan social untu masuk kelembaga pendidikanselanjutnya.
• Membantu orang tua agar memahami dan menerima anak sebagai individu
• Membantu orang tua mengatasi gangguan emosi anak yang ada hubunganya dengan situasi keluaga dirumah.
• Membantu orang tua mengambil keputusan memilih sekolah bagi anaknya yang sesuai dengan taraf kemampuan intelektual,fisik, social dan emosional.
• Memberikan informasi pada orang tua untuk memecahkan masalah kesehatan anak.

PENTINGNYA PENGUASAAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN BAGI GURU

3.PENTINGNYA PENGUASAAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN BAGI GURU
Oleh h2dy 1 Komentar
Kategori: Uncategorized
Tujuan pendidikan Nasional sebagaimana telah diamanatkan oleh Undang Undang Dasar 1945 adalah sebagai upaya mencerdaskan generasi-generasi bangsa yang nantinya akan menjadi penerus perjuangan generasi terdahulu dalam mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia menuju bangsa yang berbudi luhur dan berkesejahteraan sosial.
Namun demikian untuk mencapai tujuan pendidikan sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945 diatas, bukanlah merupakan suatu hal yang mudah untuk diraih. Realitas globalisasi dan modernisasi dilengkapi dengan perkembangan teknologi yang begitu pesatnya, diakui atau tidak telah memberi dampak negatif yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan dampak positif yang ditimbulkan terhadap perkembangan para generasi bangsa ini, dan selanjutnya hal ini akan dapat menghambat pencapaian tujuan pendidikan sebagaimana diamatkan oleh UUD 1945 diatas.
Dampak negatif dari globalisasi, modernisasi dan perkembangan teknologi yang begitu pesatnya terhadap perkembangan generasi-generasi bangsa ini tentunya bukan merupakan rahasia lagi. Hampir tiap hari kita disuguhi dengan informasi-informasi mengenai pelajar yang membolos sekolah dan keluyuran dijalanan atau berada di tempat penyewaan Play Station (Memorandum, 11 Maret 2008), pelajar yang terlibat perkelahian (News.okezone.com), pelajar yang terlibat perilaku seks bebas (http:www.bkkbn.go.id), pelajar yang terlibat penyalah gunaan NARKOBA (http:www.bkkbn.go.id) dan masih banyak lagi.
Realitas perilaku para pelajar sebagaimana telah digambarkan diatas, jelas sangat menuntut keterampilan para tenaga pendidik dalam memahami perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik para pelajar jika menginginkan para pelajar tersebut tidak gagal di bangku sekolah dan tidak kehilangan masa depan mereka. Disinilah pentingnya penguasaan psikologi pendidikan bagi para tenaga pendidik dan disinilah pentingnya peran seorang Psikolog dalam dunia pendidikan.
Arthur S. Reber, 1988 seorang guru besar psikologi di Brooklyn College, University of New York City, University of British Columbia Canada, dan University of Innsbruck Austria (dalam Syah, 2001) mendefinisikan psikologi pendidikan sebagai subdisiplin ilmu psikologi yang berkaitan dengan teori dan masalah kependidikan yang berguna dalam hal-hal sebagai berikut:
1. Penerapan prinsip-prinsip belajar dalam kelas.
2. Pengembangan dan pembaruan kurikulum.
3. Ujian dan evaluasi bakat dan kemampuan.
4. Sosialisasi proses-proses dan interaksi proses-proses tersebut dengan pendayagunaan ranah kognitif.
5. Penyelenggaraan pendidikan keguruan.
Tadrif, 1987 (dalam Syah, 2001) mendefinisikan psikologi pendidikan sebagai bidang studi yang berhubungan dengan penerapan pengetahuan tentang perilaku manusia untuk usaha-usaha kependidikan. Adapun ruang lingkupnya, meliputi:
1. Context of teaching and learning (situasi atau tempat yang berhubungan dengan mengajar dan belajar).
2. Process of teaching and learning (tahapan-tahapan dalam mengajar dan belajar); dan
3. Outcomes of teaching and learning (hasil-hasil yang dicapai oleh proses mengajar dan belajar).
Senada dengan gagasan Tadrif diatas Santrock (2007) menegaskan psikologi pendidikan adalah cabang ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan dan merupakan bidang yang sangat luas, mencakup bagaimana mendesain lingkungan fisik kelas?, bagaimana menciptakan lingkungan yang positif untuk pembelajaran?, bagaimana menghadapi perilaku bermasalah?, bagaimana memahami gaya belajar dan gaya berfikir siswa?, bagaimana mendeteksi kemampuan belajar siswa?, bagaimana memotivasi siswa?, bagaimana cara penggunaan pendekatan behavioral, kognitif dan sosial dalam pembelajaran? dan masih banyak lagi.
Berangkat dari beberapa definisi dan ruang lingkup psikologi diatas, kiranya telah cukup jelas bahwa pengetahuan tentang psikologi pendidikan sangatlah diperlukan dalam upaya mencapai tujuan pendidikan nasional. Menurut Lindgren sebagaimana dikutip Surya (1982), manfaat psikologi pendidikan ialah untuk membantu para tenaga pendidik dalam mengembangkan pemahaman mengenai kependidikan dan prosesnya. Sementara itu Chaplin (1972) menitik beratkan psikologi pendidikan untuk memecahkan masalah-masalah yang terdapat dalam dunia pendidikan dengan cara menggunakan metode-metode yang telah disusun secara rapi dan sistematis.
Jika ditilik dari sejarah perkembangan disiplin ilmu psikologi pendidikan, memang tidak dapat dipungkiri lagi bahwa ilmu psikologi pendidikan sangatlah dibutuhkan dalam dunia pendidikan. Sejarah telah mencatat peran William James (1842 – 1910) dalam dunia pendidikan yang telah memberikan sumbangan pemikiran akan pentingnya mempelajari proses belajar dan mengajar dikelas guna meningkatkan mutu pendidikan melalui kuliahnya yang bertajuk “Talks to Teachers”, John Dewey (1859-1952) telah memberikan sumbangan tentang konsep anak sebagai pembelajar aktif (active learner), kemudian Skinner (1954) telah mengembangkan konsep programmed learning (pembelajaran terprogram) dan masih banyak lagi.
Lebih jelas Syah (2001) dalam bukunya Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru menegaskan, setidaknya ada 10 (sepuluh) macam kegiatan pendidikan yang banyak memerlukan prinsip-prisnsip psikologis, yaitu:
1. Seleksi penerimaan siswa baru.
2. Perencanaan pendidikan.
3. Penyusunan kurikulum.
4. Penelitian kependidikan.
5. Administrasi kependidikan.
6. Pemilihan materi pelajaran.
7. Interaksi belajar mengajar.
8. Pelayanan bimbingan dan penyuluhan.
9. Metodologi mengajar.
10. Pengukuran dan evaluasi.